
Bantu Abah Difabel Berjuang Hidupi Istri Tunawicara

Ini Bah Mustofa tinggal berdua bersama istrinya yang telah menginjak usia senja. Di usia senjanya, saat tubuh seharusnya beristirahat, Bah Mustofa masih harus berjuang melawan keterbatasan fisiknya. Setiap langkah kaki Kakek adalah perjuangan melawan rasa nyeri yang menusuk.

Namun, bukan rasa sakit itu yang membuatnya takut. Kakek lebih takut jika hari ini ia pulang dengan tangan hampa, sementara sang istri yang setia menantinya di rumah juga memiliki keterbatasan sebagai seorang tuna wicara.

Di sebuah gubuk kecil yang jauh dari kata layak, Kakek dan istrinya tinggal berdua. Komunikasi mereka hanya melalui isyarat tangan dan tatapan mata. Sang istri tidak bisa bersuara, namun air matanya seringkali bicara saat melihat suaminya lesu sambil memikul sisa pisang yang sudah layu karena tak laku.
Abah Mustofa suka mengeluh kesakitan ketika berjalan jauh yang ia hadapi setiap harinya, karena kondisi fisik yang tidak sebaik orang biasanya. Tidur tuk melepas rasa lelah pun sering Abah Mustofa alami.

Abah Mustofa suka mengeluh kesakitan ketika berjalan jauh yang ia hadapi setiap harinya, karena kondisi fisik yang tidak sebaik orang biasanya. Tidur tuk melepas rasa lelah pun sering Abah Mustofa alami.
#OrangBaik, jangan biarkan Abah Mustofa berjuang sendiri agar ia tidak terus-terusan seperti ini. Ia membutuhkan uluran tangan kita semua demi pengabdian yang mulia ini.
Yuk kita dukung perjuangan Abah Mustofa untuk bisa menikmati masa senja dengan lebih baik
-
June, 3 2026
Campaign is published
