Abah Usup, 85 Tahun, Masih Memanggul Cilok Demi Nafkah — di Tengah Hujan dan Tubuh yang Renta
Kenalkan, Abah Usup — Pejuang Sejati di Usia 85 Tahun
Setiap hari, tak peduli panas terik atau hujan deras, Abah Usup memanggul dagangan ciloknya keliling kampung. Di usianya yang sudah senja, 85 tahun, langkahnya perlahan tapi penuh tekad. Dengan tubuh renta, beliau tetap semangat mencari nafkah demi menyambung hidup tanpa mengeluh.

Tak ada pilihan lain, karena di rumah, dua anaknya yang mengidap gangguan jiwa butuh makan dan biaya perawatan. Tak ada yang bisa diandalkan… selain dirinya sendiri.
Di tengah jalanan becek dan udara dingin, Abah tetap berjalan menyusuri gang-gang sempit dengan cilok yang ia pikul sendiri.Abah Usup bukan hanya menjual cilok. Ia menjual harapan — bahwa di tengah kerasnya hidup, masih ada semangat untuk terus berjuang.

Abah bukan pemilik cilok, ia hanya menjual titipan orang lain. Dari setiap tusuk cilok seharga Rp500, Abah hanya mendapat upah 10% saja. Jika beruntung, ia bisa membawa pulang Rp15.000–Rp20.000 setelah seharian berkeliling.
Meski sedikit, Abah tetap bersyukur. Tapi kian hari, tenaganya kian melemah. Sering kali cilok yang dibawanya tak habis. Abah Usup bukan hanya sedang menjual cilok. Ia sedang menjual harapan — bahwa di usia senja, masih ada orang tua yang memilih berjuang, bukan menyerah.
Namun, Abah tak seharusnya berjuang sendirian.
Abah Usup sudah sepantasnya menikmati hari tua dengan tenang, bukan menggendong dagangan keliling di tengah hujan. Melalui halaman ini, kami mengajak Insan Dermawan semua — yang masih memiliki rezeki dan kepedulian — untuk membantu meringankan langkah Abah.

Mari Kita Ulurkan Tangan
Melalui halaman galang dana ini, kami mengajakmu untuk menjadi bagian dari kebaikan. Mari bantu ringankan beban hidup Abah Usup. Agar ia bisa menjalani sisa hidup dengan tenang, tanpa harus terus berjalan memikul beban berat di pundaknya.