
Di usia 56 tahun, Ibu Eni seharusnya bisa menikmati masa tenang bersama keluarga. Namun, hidup justru menuntunnya pada perjuangan panjang melawan sakit dan kesulitan yang tak pernah henti datang.

Beberapa tahun lalu, Ibu Eni didiagnosis mengidap kanker payudara. Benjolan di tubuhnya telah diangkat, namun sisa-sisa jaringan kanker masih terus berkembang. Kini, rambutnya mulai menipis karena kemoterapi yang harus dijalaninya. Namun di balik tubuh yang rapuh, semangatnya tetap kuat. Sedang di kondisinya yang memerihatinkan, masih ada yang harus ia jaga: suami, anaknya yang disabilitas, dan cucu kecil berusia 7 tahun yang sejak lahir telah ia rawat sendiri.
Suaminya, Pak Yudi, bekerja sebagai tukang parkir. Penghasilannya tidak menentu, terlebih terkadang ada pengunjung yang tidak membayar parkir. Dengan begitu Ibu Eni sesekali bekerja sebagai buruh cuci, mencari apa pun yang bisa membantu menambah uang makan keluarga. Namun jika tak ada rezeki sama sekali, mereka sering menahan lapar, bahkan berpuasa tanpa tahu kapan bisa berbuka dengan makanan yang layak. Terkadang, mereka hanya bisa berharap pada sedekah Jumat Berkah dari masjid.

Kehidupan mereka kian berat ketika tak mampu lagi membayar kontrakan selama berbulan-bulan. Ibu Eni, Pak Yudi, anak disabilitas, dan cucunya sempat berpindah-pindah tempat. Mulai dari tidur di masjid, hingga pura-pura menunggu pasien di rumah sakit hanya agar bisa punya tempat bernaung sementara. Padahal dulu, Ibu Eni sempat memiliki rumah kecil, namun terpaksa dijual untuk biaya pengobatan anaknya yang bocor jantung dan untuk dirinya sendiri yang saat itu tengah berjuang melawan berbagai penyakit dari mulai lambung, diabetes, hingga rahim.

Kini, meski tubuhnya masih lemah dan pasca operasi tulang ekor karena kecelakaan, Ibu Eni tetap setia mengurus anaknya yang disabilitas. Sementara cucunya yang sejak lahir ditinggalkan orang tuanya, kini menderita infeksi paru dan TBC perut. Beberapa kali Ibu Eni sempat dirawat di rumah sakit tanpa sepeser uang pun di tangan. Pernah suatu kali, saat tubuhnya tak sadarkan diri, suaminya menggendongnya menuju rumah sakit — hingga di tengah jalan ada orang baik yang membantu memesankan ojek online agar mereka bisa sampai.
Meski hidupnya penuh ujian, harapan Ibu Eni sederhana: Ia ingin sembuh, ingin bisa memiliki rumah kecil untuk anak-anaknya kelak, melunasi tunggakan kontrakan, dan membuka usaha kecil bersama Pak Yudi agar tak lagi bergantung pada belas kasih orang. Ia juga ingin cucunya bisa sekolah dengan layak — memiliki seragam baru, bukan lagi seragam olahraga TK yang sudah kekecilan.
Sobat Berdampak, Ibu Eni bukan hanya butuh doa…Ia butuh uluran tangan kita. Agar bisa tetap kuat melawan penyakit, dan mempunyai usaha yang lebih layak. Mari bantu ringankan beban beliau dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur Fundraiser, kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
![]()
Belum ada Fundraiser