
Jual Nasi Uduk Untuk Hidupi Cucu Tunarungu

"Bagaimanapun juga saya akan berjuang untuk Daffa, cucu saya punya masa depan seperti anak lainnya" Ucap Bu Apsah.
Sejak Daffa berusia 1,5 tahun orang tuanya berpisah, sang ayah hingga saat ini mentelantarkannya begitu saja, jangankan menafkahi untuk mengetahui keberadaan atau kabar Daffapun tidak pernah.

Dengan terpaksa sang ibu harus bekerja diluar kota untuk memenuhi kebutuhan sang anak, meskipun penghasilannya jauh dari kata cukup.
Daffa sejak kecil di rawat oleh sang nenek, Bu Apsah. Berbagai pengobatan sudah dilakukan agar Daffa bisa mendengar, harta benda sudah banyak di jual asalkan sang cucu bisa mendengar. Dan pada akhirnya setelah menjalani pemeriksaan di salah satu rumah sakit. Besar kemungkinan, Daffa masih bisa mendengar dengan menggunakan alat bantu dengar (ABD), namun sayangnya untuk membeli alat bantu dengar memerlukan biaya puluhan juta.
Saat itu Bu Apsah mulai mengumpulkan biaya untuk membeli alat bantu dengar dari hasil berjualan warung kelontong, namun sayangnya rencananya tidak berjalan dengan baik, usahanya bangkrut karena sepi pelanggan dan dagangannya banyak dihutangi.
Cucu kesayangannya saat ini berusia 10 tahun. Masih duduk di bangku kelas 4 SLB. Usia di mana seorang anak seharusnya bermain tanpa rasa cemas, dan pulang ke rumah dengan senyum lebar. Namun kenyataan hidupnya jauh berbeda, Daffa tidak merasakan kebahagiaan masa kecilnya bisa bermain dengan teman sebayanya.

"Dulu sering main keluar rumah, tapi pas pulang Daffa menangis, gak tau kenapa, mungkin dia minder. Sering juga dikatain orang, saya cuma bisa menangis, siapa sih yang mau punya cucu seperti ini" Ujar Bu Apsah.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, Bu Apsah hanya mengandalkan jualan nasi uduk dan gorengan. Keuntungan yang di dapat kisaran 30ribu-50ribu sehari, dan Bu Apsah gunakan untuk makan sehari-hari. Sedangkan untuk biaya dan kebutuhan sekolah Daffa diperoleh dari anak Bu Apsah, ibunya Daffa.
"Sering dagangan saya gak laku, apalagi sekarang musim ujan, daripada mubazir saya kasih ke tetangga" Tambahnya.
Meskipun dalam keterbatasan dan sering di anggap remeh, namun Daffa bagi Bu Apsah merupakan anak yang penuh perhatian dan penuh kasih sayang.
"Pernah ketika saya sakit, Daffa keluar sendiri cari tukang urut buat saya. Kalau saya sakit sering dia pijit saya. Bahkan kalau jualanpun setiap hari Daffa bantu saya dan nemenin saya jualan" Ucap Bu Apsah.
Kini, dunia Daffa hanya berputar pada satu sosok neneknya yang sudah tua dan hidup dalam serba kekurangan. Bu Apsah lah yang saat ini menjadi teman sejatinya, melewati hari-harinya meskipun serba terbatas.

Di tengah keterbatasan itu, Bu Apsah tak pernah mengeluh. Tubuhnya mungkin lelah, tapi hatinya tetap bertahan. Ia selalu berdoa agar cucunya tumbuh menjadi anak yang sempurna seperti layaknya anak yang lain pada umumnya.
Sahabat Kebaikan, Bu Apsah sampai saat ini masih berusaha mengumpulkan biaya untuk membeli alat bantu dengar untuk cucunya tercinta. Namun harus sampai berapa lama? Sedangkan penghasilannya tak menentu.
Di balik setiap perjuangan Bu Apsah, ada cinta seorang nenek dan di balik tubuh kecil cucunya, ada masa depan yang masih bisa kita perjuangkan bersama.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Daffa. Selain itu akan digunakan untuk para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Ruang Harsa Bestari.
__________________________________________________
Disclaimer : Poroskebaikan.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
-
May, 25 2026
Campaign is published
