ImageTukang Sol sepatu menggendong Anak nya yang lumpuh...
Image

Tukang Sol sepatu menggendong Anak nya yang lumpuh

Image
Bandung, Jawa Barat
Rp 31.341.740 terkumpul dari Rp 75.000.000
559 Donasi 2 bulan, 0 hari lagi

Namanya Pak Ujang, usianya 50 tahun, seorang tukang sol sepatu keliling. Setiap hari ia berjalan sejauh 6 kilometer, dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore.

Meski lelah, ia tetap berkeliling sambil menggendong anak bungsunya,Intan, yang sudah berusia 6,5 tahun namun mengalami kelumpuhan. 

Intan sering digendong di punggungnya meski sedang sakit. Kelelahan membuat Intan sering muntah, tapi Pak Ujang tak punya pilihan lain.

Terkadang, giliran istrinya, Bu Kokom, yang kini berusia 47 tahun menggendong Intan. Bu Kokom bekerja sebagai buruh tani dari jam 6 pagi hingga 2 siang, itu pun kalau ada yang mempekerjakannya.

Setiap kali mereka bekerja, mereka harus bergantian membawa Intan. Bukan karena tega Mereka berdua harus membawa Intan panas-panasan, api tak ada pilihan lainnya.

Rumah kontrakan yang kecil dan harus dikunci ketika ditinggal bekerja, meski Nenek Intan tinggal bersama mereka, tapi usianya sudah 84 tahun dan sedang sakit karena faktor usia yang sudah lanjut, sehingga tak mampu menjaga cucunya.

Jika Intan ditinggal, tak ada yang bisa memastikan ia makan, minum susu, mengganti popok, atau membersihkan nya saat Ia buang air besar. Itulah alasan mereka harus selalu membawa Intan kemanapun mereka pergi.

Penghasilan Pak Ujang hanya sekitar 30 ribu rupiah per hari, sementara Bu Kokom mendapat sekitar 60 ribu rupiah per hari jika ada yang nyuruh. Mereka berdua bekerja keras demi dua anaknya yang masih mereka tanggung, terutama Intan, yang mengalami kelumpuhan sejak usia 5 bulan.

Semua bermula ketika Intan demam tinggi lalu mengalami kejang. Sejak saat itu, saraf motorik kaki, tangan, dan sebagian tubuhnya rusak. Hingga kini Intan tak bisa berbicara, berjalan, bahkan tak bisa bergerak. Yang paling membuat hati orang tuanya runtuh adalah ketika Intan harus mengalami kejang tiga kali sehari, tubuhnya melipat, mulutnya mengeluarkan busa, bahkan darah. Dan itu masih terjadi sampai sekarang!. 

Perkembangan Intan terus menurun. Tubuhnya semakin kurus, dikarenakan sejak usia 3 tahun, Intan berhenti berobat dan berhenti terapi karena orang tuanya tak punya biaya. Kini usianya hampir 7 tahun, tubuhnya makin kaku dan kelumpuhannya semakin parah.

"Mungkin sudah jadi nasib ibu punya anak seperti ini. Ah… sabar aja ibu mah. Kalau panjang umur, ibu bersyukur. Tapi kalau pendek umurnya… masa iya… meski sudah diikhtiarkan ke rumah sakit," ucap Bu Kokom lirih, penuh kecemasan.

Kadang mereka membayangkan, jika Intan sehat, ia pasti sudah duduk di bangku kelas 1 SD. Karena itu, perasaan iri sering muncul saat mereka melihat anak lain seusia Intan pergi sekolah.

"Kadang hati suka iri lihat anak orang lain seusia Intan sekolah. Tapi anak ibu begini… ibu suka sedih, tak jarang nangis sendiri," ungkap Bu Kokom sambil menahan tangis.

Anak ke-4 mereka masih sekolah, dan setiap hari Pak Ujang serta Bu Kokom harus menyiapkan uang sakunya sekitar 20 ribu. Jika ada tugas tambahan dari sekolah, biayanya bisa lebih besar. Anak ke-3 mereka sudah bekerja, tapi penghasilannya hanya cukup untuk dirinya sendiri. Walau begitu, sedikit banyak hal itu meringankan beban orang tuanya.

Sementara anak pertama dan kedua sudah menikah dan punya kehidupan masing-masing.

Belum lagi nenek Intan yang sudah berusia 84 tahun ikut tinggal bersama mereka. Artinya, biaya hidup semakin besar. Setiap hari Bu Kokom merawat ibunya dan Intan sekaligus. Terkadang Pak Ujang ikut membantu memandikan Intan, mengganti popok, memberi susu, bahkan menggendongnya ketika kejang.

Di usia hampir 7 tahun, Intan masih memakai popok. Setiap minggu mereka harus membeli satu bal pampers seharga lebih dari seratus ribu. Susu formula Intan juga harus dibeli dua kilogram setiap minggu, dengan harga sekitar 70 ribu per kilo. Sedangkan makanan Intan berupa bubur bayi kemasan yang dalam sehari bisa habis enam sachet atau sekitar 12 ribu rupiah.

"Kadang ibu suka mikir, dari mana ya makan besok? Susunya nanti? Popoknya? Saking frustasinya, ibu suka bertanya sama Allah… kenapa nasib ibu begini? Tapi suka ingat lagi… Neng, maafin Mamah ya kalau ini dosa Mamah yang bikin Neng jadi begini…" Ujar Bu Kokom sambil menangis.

Keluarga Pak Ujang tinggal di rumah kontrakan dengan biaya 500 ribu rupiah per bulan, belum termasuk listrik sekitar 120 ribu.

 Dengan penghasilan pas-pasan dan tanggungan sebesar itu, mereka terpaksa mengubur keinginan untuk melanjutkan pengobatan Intan. Padahal mereka sangat ingin melihat Intan hidup seperti anak-anak lain.

Ada dua harapan besar yang terus mereka simpan hingga kini yakni yang pertama Mereka ingin sekali Membelikan Intan kursi roda khusus, agar Intan tak hanya berbaring seharian di rumah.

Dan yang kedua Bu Kokom Membuka usaha warung kelontong, agar mereka punya penghasilan lebih layak dan tak perlu membawa Intan panas-panasan saat bekerja.

Harapan Mereka sederhana, tetapi terasa begitu jauh dari jangkauan. Namun di tengah hidup yang begitu berat, Pak Ujang dan Bu Kokom tetap memelihara satu hal yakni cinta Mereka tak pernah berhenti.

Keduanya percaya, selama mereka masih bisa berjuang, masih ada alasan bagi Intan untuk tersenyum.

Dari kisah inilah kita belajar, bahwa perjuangan orang tua tak pernah mengenal kata lelah. Dan setiap harapan, sekecil apa pun, harus terus dijaga.

Sahabat kebaikan mari kita buat masa depan Intan menjadi lebih baik dengan membuat Ia sembuh dari kelumpuhan nya dengan begitu kedua Orang tuanya bisa hidup dengan lega, selain itu mari kita berikan modal usaha agar kehidupan keluarga nya bisa menjadi lebih baik.

Berapa pun bantuan dari Sahabat kebaikan akan mengurangi beban kehidupan keluarga Pak ujang terutama untuk Intan.

Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Pak Ujang. Selain itu akan digunakan untuk implementasi program dan para penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.

-------------------------------------


Disclaimer : Poroskebaikan.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).

 

 

 

  • May, 4 2026

    Campaign is published

Herra7 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 101.000
Insan Dermawan7 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 25.684
Farida Dwi7 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 100.810
Insan Dermawan7 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 100.852
Insan Dermawan7 jam yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 51.354
Bagikan melalui:
✕ Close