
Di Atas Roda Kecil Abah Menopang Harapan

Di sebuah sudut kampung yang sederhana, hiduplah seorang lansia bernama Abah Kardi. Usianya kini telah menginjak 74 tahun. Di masa ketika banyak orang seusianya menikmati hari tua bersama keluarga, Abah justru masih harus berjuang mencari nafkah demi menyambung hidup.

Abah tinggal di rumah sederhana yang masih dengan kayu bersama seorang cucunya yang masih duduk di bangku SMA. Cucu itulah yang menjadi teman setia sekaligus penyemangat hidupnya setiap hari. Sementara anak-anaknya sudah memiliki kehidupan masing-masing dan hanya sesekali datang menjenguk. Hari-hari Abah lebih banyak diisi oleh kesunyian dan perjuangan.

Sejak bertahun-tahun lalu, Abah berjualan kerupuk sangrai keliling kampung. Dengan penghasilan yang tidak menentu, hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per hari, Abah tetap bersyukur karena uang itu bisa membantu kebutuhan makan dan sekolah cucunya.

Namun cara Abah berdagang sungguh membuat siapa pun yang melihatnya merasa haru. Karena keterbatasan ekonomi, Abah membuat sendiri sebuah kendaraan sederhana berupa roda kecil yang digunakannya untuk berkeliling menjajakan kerupuk. Di tangannya selalu tergenggam sebuah tongkat kecil sebagai penyangga tubuh yang mulai renta.

Setiap pagi, saat matahari belum terlalu tinggi, Abah mendorong dan menaiki roda kecil buatannya itu menyusuri jalan demi jalan. Panas terik, hujan, dan lelah sudah menjadi teman akrabnya.

Cobaan berat datang beberapa waktu lalu.

Saat sedang berjualan, Abah mengalami kecelakaan setelah tertabrak angkot. Kaki kanannya patah. Benturan keras itu juga menyebabkan ginjalnya mengalami cedera hingga harus menjalani operasi. Sejak saat itu, kondisi fisiknya semakin menurun.

Meski rasa sakit sering datang dan tubuhnya tak lagi sekuat dulu, Abah tetap berusaha berdagang. Bukan karena ingin kaya, tetapi karena tidak ada pilihan lain. Jika Abah berhenti berjualan, maka dapur kecil mereka bisa saja tidak mengepul.

Di usianya yang senja, Abah Kardi sebenarnya hanya memiliki satu harapan sederhana.
Ia tidak lagi bermimpi memiliki rumah mewah atau kehidupan berkecukupan. Abah hanya ingin mempunyai sebuah warung kecil di depan rumah. Warung sederhana tempat ia bisa berjualan tanpa harus berkeliling menggunakan roda kecilnya setiap hari.
Dengan adanya warung itu, Abah tidak perlu lagi mempertaruhkan kesehatannya di jalanan. Ia bisa tetap mencari nafkah sambil duduk, mengawasi dagangan, dan menemani cucunya belajar setiap sore.
Harapan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi Abah Kardi, warung kecil tersebut adalah kesempatan untuk menjalani masa tua dengan lebih tenang dan lebih bermartabat.
Di balik wajah keriput dan langkah yang tertatih, Abah masih menyimpan semangat hidup yang luar biasa. Semangat seorang kakek yang tidak ingin menyerah pada keadaan, meskipun tubuhnya telah dipenuhi luka dan usia.
Semoga suatu hari nanti, roda kecil yang selama ini menjadi saksi perjuangan Abah Kardi bisa beristirahat. Dan sebagai gantinya, berdirilah sebuah warung sederhana yang menjadi sumber penghidupan baru bagi Abah dan cucunya.
Karena setiap orang tua yang telah menghabiskan hidupnya untuk bekerja keras, pantas mendapatkan masa tua yang lebih layak, lebih nyaman, dan penuh kasih sayang.
-----------------------------------------------------------------------------------
Disclaimer : Poroskebaikan.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).
-
July, 4 2026
Campaign is published
