
Masih SMP, Tri Tak Malu Jualan Demi Keluarga
Di usia ketika anak-anak seusianya sibuk belajar dan bermain, Tri justru harus memikul tanggung jawab yang begitu besar.
Sejak sang ibu meninggal dunia saat melahirkan adik bungsunya, hidup Tri berubah. Ia kehilangan sosok ibu sekaligus harus menjadi kakak yang menguatkan keempat adiknya. Sang ayah hanya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu, sehingga kebutuhan keluarga sering kali tidak tercukupi.

Sepulang sekolah, Tri tidak langsung pulang untuk beristirahat. Ia berjualan gorengan, kerupuk, dan sayuran bungkus yang diambil dari warung dekat rumahnya. Demi mencari pembeli, Tri bahkan kerap mengajak adik bungsunya karena tidak ada yang menjaga di rumah.

Dalam sehari berjualan, penghasilannya hanya sekitar Rp30.000. Uang itu digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan makan keluarga, membeli perlengkapan sekolah, dan sedikit demi sedikit mencicil kebutuhan pendidikan. Tri mulai berjualan sejak masih duduk di bangku SD, dan hingga kini ia tetap berjuang meski sudah menginjak SMP.
Perjalanan Tri tidak selalu mudah. Selain harus memikirkan ekonomi keluarga, ia juga sering menjadi korban perundungan di sekolah. Ia pernah diejek tanpa alasan, dipanggil dengan sebutan yang menyakitkan, bahkan mengalami kekerasan hingga matanya dipukul oleh kakak kelasnya. Meski begitu, Tri memilih tetap bertahan dan tidak menyerah pada keadaan.

Di balik semua kesulitannya, Tri menyimpan mimpi yang sederhana namun begitu besar. Ia ingin bisa melanjutkan pendidikan ke SMK, bahkan bercita-cita kuliah agar kelak dapat mengubah kehidupan keluarganya dan memberikan masa depan yang lebih baik untuk adik-adiknya.
Sahabat Kebaikan, perjuangan Tri tidak seharusnya ia jalani sendirian. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, biaya sekolah, perlengkapan belajar, serta memberikan harapan agar Tri dapat terus menggapai cita-citanya.
-
July, 10 2026
Campaign is published
