ImageTubuh Gemetar Abah Tetap Berjualan Tisu Di Jalanan...
Image

Tubuh Gemetar Abah Tetap Berjualan Tisu Di Jalanan

Image
kab.bandung
Rp 1.722.743 terkumpul dari Rp 100.000.000
40 Donasi 1 bulan, 4 hari lagi

Di sudut jalan yang ramai, di antara suara klakson dan langkah orang-orang yang terburu-buru, ada seorang lelaki tua berjalan perlahan sambil meraba sisi tembok. Tubuhnya kurus membungkuk dimakan usia. Tangannya gemetar memegang keranjang kecil yang digantung di dada, berisi beberapa bungkus tisu yang belum tentu habis terjual hari itu.

Namanya, menurut pengakuannya, Abah Idik. Usianya sudah 103 tahun.

 

Matanya mulai rabun. Langkahnya tak lagi kuat. Namun hidup memaksanya tetap berjalan, meter demi meter, demi mencari uang sepuluh atau dua puluh ribu untuk bertahan hari itu. Kadang sejak pagi hingga sore, tisu yang terjual hanya beberapa bungkus. Saat lapar datang, Abah hanya menunduk diam, menahan perut yang kosong sambil terus menawarkan dagangannya dengan suara lirih.

“Beli tisunya, Nak…”

 

Tak ada yang tahu berapa kali beliau hampir jatuh saat berjalan. Tak ada yang tahu betapa dinginnya malam terasa ketika tubuh renta itu pulang tanpa hasil cukup. Di usia ketika banyak orang menikmati waktu bersama cucu dan keluarga, Abah Idik justru masih harus bertarung melawan kerasnya hidup di jalanan.

setiap pagi abah hanya bisa makan dengan roti dan air mineral saja karena hasil jualan tisu nya yang jarang sekali adapembeli

Yang paling menyentuh bukanlah tentang usianya.

 

Tetapi tentang semangatnya.

Di tengah tubuh yang terus melemah, Abah tidak meminta belas kasihan berlebihan. Ia hanya ingin punya sedikit modal usaha kecil agar tidak perlu berjalan jauh lagi. Mungkin sebuah warung sederhana di depan rumah. Mungkin jualan kecil yang bisa dilakukan sambil duduk. Keinginan yang bagi sebagian orang terlihat biasa, namun bagi Abah adalah harapan besar untuk menutup sisa usia dengan sedikit ketenangan.

 

Bayangkan…

103 tahun.

Tubuh gemetar menahan lapar.

Mata rabun mencari pembeli.

Tangan renta tetap menggenggam harapan.

 

Kadang hidup memang tidak adil. Tetapi hati manusia masih bisa memilih untuk peduli.

 

Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh hidup Abah Idik. Namun sekecil apa pun bantuan, perhatian, atau doa, bisa menjadi alasan beliau tersenyum hari ini. Karena bagi seseorang yang sudah melewati lebih dari satu abad kehidupan, yang paling berharga bukan hanya uang—tetapi merasa bahwa dirinya masih dianggap dan tidak sendirian di dunia ini.

----------------------------------------------------------------------------------------

Disclaimer : Poroskebaikan.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana).

  • July, 4 2026

    Campaign is published

Insan Dermawan2 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 31.337
titipan tuhan3 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 26.070
Insan Dermawan3 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 26.125
Insan Dermawan3 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 25.939
Insan Dermawan3 hari yang lalu
Berdonasi sebesar Rp 27.767
Bagikan melalui:
✕ Close